Silent Witness

So here I am, sitting on a bed, only a few meters away from my best friend, not knowing what to do.

She’s crying, crying about her life. Crying of what the life has given to her. Crying of those unanswered prayers. Crying of the rights to a happy life that seem to be taken away from her. Well, I know most of her problems. In fact, I can easily guess what problem that destroys her today. But I just don’t want to talk about it anymore. There have been so many days when I talked, and talked, and talked about her problems. And she knows exactly where I stand. I stand on the side of Jesus. I stand by the truth. So I am being utterly quiet right now. Melodies and sung words could do much of a favor, I presume, so I turn on some songs about God’s perfect love and His faithfulness, and let her cry over the songs. She knows the truth, as much as it hurts, but sometimes we all need to hear it again in a less-provocative way, through those beautiful worship songs.

My other best friend taught me one thing. Sometimes being silent is better than talking too much. A pat in the back is much better than a thousand words. Even the bible said so.

This you know, my beloved brethren. But everyone must be quick to hear, slow to speak and slow to anger. (James 1:19 NASB)

So I am practicing the -silent is golden- thing and continue to hope in my heart that she could finally find a way out of this ugly pit she’s in.

I feel like crying. I am holding my tears, trying to look strong and content as if nothing happened. But I just can’t see my closest friend falling apart in front of me. I suddenly feel as broken as her. I want to go to the source of her problem and make it disappear. But I am not God. And God is actually achieving something in her character and her life through this problem. So the problem is not a problem for the Almighty Heavenly God. He is too sovereign for this. But human’s heart is too fragile, too doubtful, too easy to say “this is too big for me” or “I’m not cut out for this” or the most famous one “God doesn’t love me anymore”.

So I do what I have to do. I wait upon the Lord and pray. Pray as much as I can. Pray as earnestly as I can, pleading with God to give her a certain answer. And a peaceful mind. A content heart. And spiritual eyes that are fixed on Jesus. In every trials, be sure to fix your eyes on Jesus, the Almighty one, the one that has defeated everything on the cross. Not only satan, but also our weaknesses. Live with the fact that He has won the battle. And that we are more than conquerors if we abide in Him.

Therefore, since we have so great a cloud of witnesses surrounding us, let us also lay aside every encumbrance and the sin which so easily entangles us, and let us run with endurance the race that is set before us, fixing our eyes on Jesus, the author and perfecter of faith, who for the joy set before Him endured the cross, despising the shame, and has sat down at the right hand of the throne of God. (Hebrews 12:1, 2 NASB)

Lukisan Langit

Lagi-lagi Allah membuatku terkesima. Dia yang melukis awan-awan di langit, dan membuat seolah-olah gumpalan uap air itu ada maknanya. Manusia berusaha menebak arti goresan-goresan yang menghias cakrawala itu, dan mencari kemiripan dengan dunia. Tapi mungkin saja, mungkin saja itu gambaran makhluk-makhluk Surga. Yang tak pernah kita lihat, yang belum pernah kita dengar.

Aku melintas sekali lagi di antara goresan-goresan itu. Dan aku bahkan melihat padang belantara Surga! Paparan awan dari ujung ke ujung, seperti mengundangku berjalan di atasnya. Ingin satu waktu aku turun ke sana, menyusuri padang yang melayang di angkasa itu dan merasakan apa yang selama ini hanya dapat kupandang. Apakah seperti semak-semak? Apakah seperti angin? Apa sebenarnya, aku sedang berjalan di pelataran Surga? Meski aku tahu, ini masih sangat jauh dari tempat kediamanNya.

Pilot membuka wacana. Kami sedang berada 11.600 meter di atas permukaan laut, katanya. Ia melaporkan cuaca. Ia melaporkan waktu tiba. Tapi aku yakin, ia tak akan pernah bisa menjelaskan apa yang sedang Tuhan lakukan di langit pagi ini. Tak ada penjelasan. Tak ada kata-kata. Hanya kesima, kagum, pesona, heran, ingin tahu. Ya, ingin tahu akan banyak hal yang misteri dalam hidupku, seperti awan-awan ini. Seperti cakrawala ini.

Tidak ada manusia super di dunia ini. Yang ada hanya Tuhan yang ajaib. Yang keajaibannya kekal, dari masa ke masa. Yang kuyakin hanya satu. Kalau Ia begitu peduli untuk melukis langit dan membuatnya tak sebanding dengan keindahan buatan tangan manusia, kalau Ia begitu rupa memikirkan apa yang hanya tergantung di angkasa dan menurunkan hujan, aku yakin, jauh lebih lagi Ia memikirkan aku. Gambar dan rupaNya. CintaNya. Buah hatiNya. Pusat pengorbananNya.

Dan saat aku tengah memikirkanNya, saat ini juga, Dia pun memikirkan aku. Aku sedang berkasih-kasihan dengan Allah. Aku sedang bersendagurau, bertanya jawab, berbalas kata-kata, meski aku tak mendengar bicaraNya.

Yesus. Dia penuh cinta. Setia. Adil. Besar. Melingkupi bumi. Mengatasi langit. Yang Tertinggi di atas yang tertinggi. Tapi hatiNya turun sampai ke bumi. Sampai ke hatiku.

Dia selalu datang di tengah sepi. Dia berbicara di dalam sunyi. Dia ada, dan aku merasakanNya. Dan asal Dia ada, bersamaku, itu pasti cukup. Karena semua di bawah kakiNya, semua di dalam tanganNya, dan aku terukir di hatiNya. Hidupku indah dalam rancanganNya.

Yesus, terima kasih untuk lukisanMu di awan pagi ini. Aku melihatnya, Tuhan. Indah sekali.

Seni Menangis

Menangislah, sampai menangis itu tidak ada gunanya.
Menangis, sampai air mata tak terasa.
Menangis, sampai Tuhan menjawab doa.
Menangis, meski bersyukur atau bertanya.

Menangis, waktu baik dan buruk masanya.
Menangis, waktu keadilan dicela.
Menangislah, saat kekurangan hikmat.
Menangislah, saat kelimpahan berkat.

Menangis karena berharap pada hal-hal yang tak masuk akal.
Menangislah untuk pengharapan yang tak kelihatan.
Menangislah karena mungkin itu satu-satunya jalan.
Untuk mencapai ketenangan.
Air mata dan Tuhan.
Mereka bekerjasama.
Menenangkan hati kita.

Anugerah Berbicara Kepada Tembok

"Sedangkan seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah terhadap semua orang. Ia harus cakap mengajar, sabar dan dengan lemah lembut dapat menuntun orang yang suka melawan, sebab mungkin Tuhan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat dan memimpin mereka sehingga mereka mengenal kebenaran, dan dengan demikian mereka menjadi sadar kembali, karena terlepas dari jerat Iblis yang telah mengikat mereka pada kehendaknya." -2 Timotius 2:24-26

Ada anugerah untuk berbicara pada 'tembok'. Tembok-tembok yang susah mendengar. Tembok-tembok yang susah percaya. Tembok-tembok yang bebal. Tembok-tembok yang tidak suka proses.
Ada anugerah tambahan untuk berbicara kepada mereka. Untuk diam bahkan, jika memang kita sudah mengatakan apa yang semestinya mereka dengar. Ada anugerah untuk menerima mereka meski mereka belum sempurna. Ada anugerah untuk percaya bahwa Tuhan bekerja bahkan di dalam hati yang sekeras baja.

Jadi kalau ada anugerah Allah, jangan menyerah. Tetap bekerja untuk Dia yang menugaskan kita di sana. Di tempat tembok-tembok itu berdiri. Sekarang tembok mereka masih teguh. Tapi suatu hari pasti runtuh.

Hanya Demi Satu Jiwa

Tuhanku luar biasa. Ia bisa menyuruhku untuk berbicara di tengah kerumunan, hanya demi satu orang. Hanya agar satu orang menemukan jawabannya. Hanya untuk meredakan kebingungannya. Hanya demi satu jiwa, Ia membuka mulutku dan menaruh kata-kata. Padahal aku pikir, aku tak ingin berbicara. Aku tak punya topik yang brilian untuk dibicarakan pada orang banyak. Tapi Ia berkata kepadaku, ceritakan tentang kasihKu, ceritakan tentang betapa panjangnya, dan lebarnya, dan dalamnya, dan tingginya kasihKu. (Efesus 3:18-19)

Tuhan pun mulai menaruh kata-kata di lidahku:
"KasihKu panjang, karena aku tak pernah berhenti mengejar, kalau kamu jauh.
Kasihku dalam, sedalam pengertianKu kalau kamu merasa tak mampu.
Kasihku lebar, seperti tanganKu yang selalu terbuka lebar untukmu, kapanpun kamu ingin kembali.
Kasihku tinggi, karena tak seorang manusia pun dapat memahaminya.
Katakan pada anak-anakKu, kasihKu memang tak akan dapat dimengerti, sebab melampaui segala pengetahuan manusia. Tapi kasihKu bisa dikenal. KasihKu bisa dialami. Kenalilah, alamilah, terimalah, tak usah berusaha memahami Aku, terima saja cintaKu. Biarkan cintaKu membalut hidupmu."

Lalu aku pun mengerti maksud Tuhan. Logika dan kemanusiawian kita hanya akan menghalangi kasihNya. Jangan lihat kasih Allah pakai kacamata logika. Untuk sesaat saja, sisihkan akal budi dan mulai aktifkan roh dan iman untuk melihat Tuhan. Sejenak saja, lihat kasihNya tanpa usaha kita. Terima saja cinta itu, biarkan cinta itu menyembuhkan kita.

Lalu sepulang dari acara di mana aku harus berbicara itu, seseorang mengirimkan pesan kepadaku, dan berkata bahwa Tuhan menjawabnya pada hari ini. Ia telah berusaha untuk memahami kasih Tuhan selama 3-4 bulan dan menemukan segala fakta yang pro dan kontra, tetapi malam ini ia menerima sebuah jawaban yang melegakan, dan mungkin malah, membebaskan. Kasih Tuhan itu memang tak untuk dimengerti, tapi untuk dikenal dan dialami.

Aku hanya bisa terkagum pada keluasan cintaNya. Aku sendiri tak akan pernah mengerti bagaimana Ia menyuruhku berbicara tentang kasih -yang kupikir bukan topik baru- tetapi ternyata seseorang dibebaskan, satu jiwa dilegakan, bagi kemuliaan Kristus.

Aku rasa, Tuhan tahu kebutuhan umatNya. Jika seseorang perlu mendengarnya lagi, Ia akan membuat siapapun berbicara.




Harapanku

Tuhan, aku hanya punya satu harapan.
Agar Kau tetap yang terutama dalam hidupku.
Yang pertama dari segala sesuatu.

Pencipta di atas semua yang dicipta;
Nomor satu.

Bukan karir atau pekerjaan.
Bukan harta, uang, atau kekayaan.
Bukan gereja atau pelayanan.
Bukan apa yang tampak baik untuk dilakukan.
Bukan keluarga atau cinta
Bukan orang-orang;
Apalagi barang-barang.
Bukan hal-hal yang penting dalam kehidupan.
Bukan kepuasan badani atau kesehatan
Bukan kebaikan atau kebanggaan
Bukan tindakan-tindakan
Atau keinginan-keinginan.
Bukan posisi atau prestasi
Bukan kekhawatiran,
Ketakutan-ketakutan yang tak perlu.
Pikiran, logika, atau imajinasi
Bukan otak kiri atau otak kanan.
Bahkan, bukan panggilanMu.
Bukan janjiMu.
Bukan berkat dan anugerahMu

Tapi hanya Engkau.
Hanya Engkau.
Selamanya sampai selamanya.
Hanya Engkau.

Today's Devotion: Kemauan Mendahului Kemampuan

Aku telah cukup yakin bahwa kemauan selalu mendahului kemampuan. Di mana Tuhan menemukan kemauan dalam hati manusia, di situ Ia akan menambahkan kemampuan Ilahi-Nya.

© 2013. Sarah A. Christie. Powered by Blogger.