Showing posts with label hot pants. Show all posts

Fashion-nista: Apapun yang terjadi jangan lupa pakai celana!?


Kalau kemarin aku membahas tentang hot-pants, celana super pendek yang super menarik perhatian pria itu, nah sekarang situasi dan kondisi memaksaku untuk menulis tentang no-pants. Karena sepertinya celana memang sudah ngga begitu populer lagi di kalangan wanita modis metropolitan. Semakin pendek dan semakin pendek ukuran celana di Indonesia. Semakin pendek hingga hampir tak terlihat lagi keberadaannya.

Jadi ceritanya, hari itu aku lagi berjalan-jalan di sebuah mall ternama di Jakarta... sebuah mall mewah, yang entah mengapa membuat semua pengunjungnya merasa perlu berpakaian seperti ke pesta. Namun bukan itu yang membuatku heran setengah mati. Berdandan dan bergaya adalah insting alamiah kita. Namun yang membuatku heran adalah ketika seorang gadis berambut ikal berjalan melewatiku, and... guess what? Ia memakai hot pants yang lebih pendek dari hot pants mana pun yang pernah kulihat sebelumnya! Kalau bola mataku bisa keluar karena kaget, mungkin sudah keluar, jatuh menggelinding dan tak kembali lagi... Maksudku... aku sangat-sangat terkejut! kalau ada perlombaan hot-pants terpendek, mungkin ia lah pemenangnya. The hot pants was so hot that it's literally as short as the underwear itself. Celana luar itu jadi tak ada bedanya dengan celana dalam. Dan yang membuatnya jadi makin parah adalah karena dia memakai model baju yang cukup panjang yang menutupi hot pants-nya, sehingga persepsi yang muncul di benak setiap orang adalah dia ngga pakai celana! Dan tanpa sadar mataku langsung berkeliling memperhatikan ekspresi setiap orang saat wanita ini lewat. You know what, semua gadis-gadis pasti dendam banget sama wanita ini.... karena bahkan pria-pria yang sedang dalam genggaman wanitanya pun otomatis menoleh dengan sukses, mata mereka terbelalak, kepala mereka berputar mengikuti arah mata angin, adrenalin mereka bergejolak, dan dengan cepat membuat semua wanita geram, mencari-cari benda tajam, atau sekedar tas belanjaan yang cukup berat untuk menghantam kepala pasangannya beberapa kali sampai otak mereka kembali normal.

Tapi tunggu dulu.... pria-pria ini ngga salah apa-apa... mereka cuma dikendalikan oleh naluri. Dan itu normal. Akan ngga normal kalau ada kejadian seperti itu terus mereka ngga bereaksi... Jadi kita bisa mengeluarkan para pria dari daftar tersangka sekarang... Karena mereka hanyalah respon, mereka adalah akibat, mereka adalah reaksi. Sementara ada aksi, ada sebab, ada sesuatu yang membuat mereka bereaksi demikian.

Anyway, kalau mungkin kamu adalah gadis yang gemar pakai hot pants, reaksi pria yang jadi jelalatan saat melihatmu mengenakan celana seksi itu membuatmu merasa disukai, diidolakan, dikagumi, karena mungkin memang kaki kamu langsing dan indah, dan putih, halus, yang dalam segala keadaannya, memang pantas dikagumi... dan jujur, aku pun suka dengan reaksi pria saat mereka mengagumi betapa indahnya karya Tuhan dalam bentuk lekukan-lekukan tubuh yang menarik ini... Tapi, seperti aku bilang sebelumnya, sampai di titik ini tipis perbedaan antara kekaguman dan pelecehan. Dan saat kamu sadar, mungkin sudah terlambat. Mungkin kamu sudah dilecehkan, atau bahkan lebih buruk dari itu, harus melayani kehewanian pria, yang ngerinya, telah kamu undang sendiri. Hey, aku tidak berusaha menakut-nakuti kamu, aku hanya ingin kamu duduk sebentar, diam sejenak, dan pikirkan pilihan-pilihan baju yang kamu pakai. Karena masalahnya, kamu ngga akan bisa mengendalikan reaksi orang nantinya. Tapi kamu dapat selalu mengendalikan tindakan kamu. Dan menentukan pilihan-pilihan yang tepat sebelum melakukannya.

Jadi ngga ada yang salah dari tampil gaya dan mempesona. Ngga ada yang salah dari memakai pakaian yang dapat memperlihatkan kelebihan tubuh kita. Sama sekali ngga ada yang salah. Tapi yang akan sangat salah adalah kalau kita para wanita, lupa pakai celana saat pergi keluar. Apalagi ke tempat-tempat umum. Maksudku, pakai hot pants super pendek tadi itu lho. Ayolah, segitu inginnya kah kita menampilkan keindahan tubuh kita, segitu inginnya kah kita membuat seorang pria menoleh, hingga kita lupa pada apa yang terpenting? Keamanan, dan bahkan kenyamanan kita sendiri? Aku yakin, pakai hot pants sependek itu, dan mendapat pandangan sirik para wanita lainnya, bukan sebuah situasi yang nyaman buat kamu. Belum lagi AC ruangan yang dingin sudah pasti membuatmu masuk angin. Dan yang terpenting dari antara yang terpenting, kehormatan kamu. Kamu adalah wanita yang terhormat... Kamu diciptakan untuk dikagumi, kamu diciptakan untuk ditempatkan di tempat yang terhormat. Jangan sampai cara berpakaian kamu membuatmu direndahkan oleh orang lain. Jangan sampai juga, ketika kamu lupa menjaga diri melalui cara berpakaian kamu, kamu jadi kehilangan 'kehormatan' kamu yang sebenarnya. Dan pada saat itu, kamu tidak dapat menyalahkan siapa-siapa selain dirimu sendiri.

Jadi apapun alasanmu, apapun tujuanmu, apapun yang terjadi, apapun itu, ku mohon, jangan lupa pakai celana.

Fashion-nista: Ada Apa Dengan Hot Pants?


Pernah pakai hot pants? Yup, celana ekstra pendek, yang maksudku, sangat pendek. Bukan-bukan, nggak sependek itu, lebih pendek lagi. Lagi, lagi, lebih ke atas lagi, ya, kira-kira segitu, beberapa centimeter di bawah underwear kamu. Pernah?

Syukur kalau belum. Nggak, aku nggak melarang kamu memakai itu. Hey, kamu perempuan, aku rasa, kamu berhak menampilkan bentuk tubuh yang memang masterpiece abadi ini. Tapi, apa kamu yakin, kamu tahu pasti tempat yang tepat untuk melakukannya? Bukannya nggak percaya, tapi sudah beberapa kali ini, seorang temen kantorku, "ngantor" dengan hot pants. Yup, "ngantor" maksudnya pergi ke kantor. Kerja. Kenapa dia melakukan itu? Honestly, aku bener-bener nggak tahu. Aku mencoba berpikir positif dengan mencari alasan-alasan yang positif... seperti misalnya, celana panjangnya lagi dicuci semua, dan karena ini musim ujan, jadi belum kering semua. Atau malah, belum ada yang nyuci baju karena pembantu pulang kampung belum balik juga. Atau bla bla bla, semakin aku berusaha mencari alasan, semakin aku nggak menemukan sejumput sebab positif sampai seorang memutuskan memakai hot pants ke kantornya. Temanku bertanya, "Memangnya itu kantor nggak ada HRD-nya? Nggak ada yang negur gitu? Atau nglarang?" Nggak ada-lah, kantor Advertising, di sebuah tempat kreatif, kamu bebas melakukan apa saja.Tapi, kamu bertanggung jawab atas tindakanmu sendiri. Buat aku itu cukup profesional. Semuanya kan kembali ke kita. Semua yang kita lakukan, sepenuhnya tanggung jawab kita. Aku rasa kebebasan inilah yang membuat orang jadi hilang akal. Bebas bisa berarti beban. Beban untuk bertanggung jawab atas kebebasan kita sendiri.

www.dictionary.com mendefinisikan hot pants sebagai very brief and tight-fitting shorts for women. Ada juga yang menyebutnya sebagai short shorts, atau kalau di-Indonesiakan bisa jadi, celana yang lebih pendek dari celana pendek... Ha ha ha...^^ Yah, memang begitu penampilannya. Tapi yang bikin kaget adalah pengertian kedua, Hot Pants diartikan sebagai bahasa slang dari strong sexual desire; sexual arousal; a state of sexual arousal; horniness. Salah satu terjemahan malah menyebutkan Hot Pants sebagai vulgar slang. Atau kemungkinan besar, pelecehan. Oh My God. Aku sendiri nggak tahu kenapa terdorong buat nyari arti kata Hot Pants. Kebiasaan penulis mungkin. Awalnya cuma ingin tahu, di mana Hot Pants dipakai kalau di luar negeri. Tapi, aku menemukan ini. jadi coba kita teliti. Siapa yang paling sering mengalami sexual arousal? Jelas, kaum pria. jadi tebak siapa yang membangkitkan gairah seksual pria, yup, kaum wanita. Jadi kesimpulannya? Hot Pants bisa jadi cuma celana ekstra pendek. Tapi Hot Pants bisa jadi juga sebuah istilah pelecehan yang datang saat, mungkin, seseorang menggunakan Hot Pants. Dan bisa jadi dengan menggunakan Hot Pants seorang wanita akan membuat seorang pria yang melihatnya mengalami sexual arousal, dan percayalah, itu kemungkinan yang sangat beralasan. Pada akhirnya, syukur kalau cuma pelecehan (harassment), kalau kekerasan (abusement)?

Kembali ke temen kantorku itu. Dia pulang pergi naik bis lho... Oke kalau nggak naik bis, semisal abis gajian, mungkin agak mewah dikit, naik taksi. Menurut kamu apa yang ada di pikiran sopir bis, kernet, sopir taksi, dan para penumpang bis itu? Aku nggak tahu pasti, karena aku juga perempuan. Tapi, ini bayangannya, seorang temen kantorku dulu mengatakan kalau sebagai laki-laki, dia bisa melihat seorang wanita berpakaian lengkap, jadi telanjang bulat, dalam imajinasinya. Man, dia katakan itu sudah beberapa tahun yang lalu, tapi aku nggak bisa lupa. Persis seperti di film-film waktu seseorang dapat melihat tembus pandang sampai ke balik pakaian seorang wanita. Satu kejadian lagi, waktu itu aku lagi jalan-jalan di sebuah plasa yang cukup lumayan di Jakarta. Bukan Plasa murahan lah pokoknya. Tapi kemudian ada beberapa orang yang memang agak buta moral, sedang melihat ke atas, ke arah eskalator naik. Mereka melihat sesuatu sambil saling mendorong, tanpa melepaskan pandangan dari sesuatu yang aku pun jadi ingin tahu. Ternyata begitu aku melihat ke arah atas, Oh My God lagi, seorang wanita sedang bersama pacarnya, dan rok yang dipakainya, percayalah, aku nggak bohong, sangat pendek! Aku dapat melihat dengan jelas apa yang di balik rok itu.Kumpulan laki-laki itu tertawa-tawa sambil terus dorong-mendorong untuk mendapatkan sudut pandang yang tepat agar dapat menemukan keseluruhan misteri di balik rok seorang wanita. Tapi hatiku menangis. Apa yang terjadi dengan moral? Itu pertanyaanku, tapi jawaban mereka bisa-bisa: Moral? Apa itu moral? Perdebatan bisa sangat panjang untuk memutuskan siapa yang salah. Wanita yang salah menginterpretasikan kebebasan dan emansipasi, atau pria yang tidak dapat mengendalikan kehewaniannya?

Sebagai seorang wanita, jujur aku tak dapat menyalahkan pria.Karena wanita dianugerahi dengan kontrol lebih baik daripada pria. Wanita juga dianugerahi dengan pemahaman akan keteraturan dan keindahan yang lebih tinggi daripada pria. Jadi memang, beban untuk menjaga moral itu lebih berat ke wanita daripada pria.

Lisa Bevere, penulis Best Seller yang bukunya kuulas beberapa waktu lalu mengatakan yang intinya seperti ini, "kalau kamu mau berpakaian seperti pelacur nggak masalah, kalau kamu memang mau mendapatkan pria-pria yang melacur" Katanya lagi, "Jangan berharap mendapatkan pria-pria yang tepat dengan berpakaian yang tidak tepat."

Di sinilah, wanita kurang mengerti. Seumur hidup, wanita berusaha memperlihatkan sebagian (atau seluruh?) dari misteri di balik pakaiannya, hanya untuk mendapatkan perhatian pria-pria yang tepat yang mereka idamkan. Tapi kenyataannya, sebelum itu terjadi, ia sudah disakiti oleh pria-pria yang tidak tepat. Wanita bahkan mengalami luka yang dalam hanya untuk itu.

Jadi lupakan soal teman kantorku yang suka sekali mengenakan Hot Pants (entah berapa kali dalam seminggu). Lupakan juga tentang seorang wanita yang memutuskan untuk memakai rok yang lebih pendek dari underwearnya. Dan sejenak, hanya sejenak saja, lupakan tentang pendapat pria. Sekarang, kembalilah kepada suara hati yang paling dalam, ya, suara hati yang itu, yang sering kamu bilang membatasi kamu, suara yang sering mengingatkan kamu saat kamu melakukan sesuatu yang tidak seharusnya. Orang menyebutnya nurani. Aku menyebutNya Tuhan. Dan dalam kondisi ini, coba teliti kembali apa yang ingin kamu dapatkan melalui cara berpakaianmu? Pujian, kekaguman, rasa hormat, atau pelecehan? Percaya nggak percaya, itu tipis sekali perbedaannya. Yang jelas, pria-pria yang tepat tidak datang dari cara berpakaian yang salah.

Inilah saatnya untuk kembali memikirkan alasan-alasan dari tipisnya, dan pendeknya, dan sedikitnya kain, dan tidak proporsionalnya pakaian yang kamu beli. Apakah itu bermanfaat, apakah itu baik, dan terlebih, apakah itu mendatangkan dampak yang baik buat kehidupanmu, kamu yang memutuskan.

© 2013. Sarah A. Christie. Powered by Blogger.