Showing posts with label Jesus Christ. Show all posts

Hanya Demi Satu Jiwa

Tuhanku luar biasa. Ia bisa menyuruhku untuk berbicara di tengah kerumunan, hanya demi satu orang. Hanya agar satu orang menemukan jawabannya. Hanya untuk meredakan kebingungannya. Hanya demi satu jiwa, Ia membuka mulutku dan menaruh kata-kata. Padahal aku pikir, aku tak ingin berbicara. Aku tak punya topik yang brilian untuk dibicarakan pada orang banyak. Tapi Ia berkata kepadaku, ceritakan tentang kasihKu, ceritakan tentang betapa panjangnya, dan lebarnya, dan dalamnya, dan tingginya kasihKu. (Efesus 3:18-19)

Tuhan pun mulai menaruh kata-kata di lidahku:
"KasihKu panjang, karena aku tak pernah berhenti mengejar, kalau kamu jauh.
Kasihku dalam, sedalam pengertianKu kalau kamu merasa tak mampu.
Kasihku lebar, seperti tanganKu yang selalu terbuka lebar untukmu, kapanpun kamu ingin kembali.
Kasihku tinggi, karena tak seorang manusia pun dapat memahaminya.
Katakan pada anak-anakKu, kasihKu memang tak akan dapat dimengerti, sebab melampaui segala pengetahuan manusia. Tapi kasihKu bisa dikenal. KasihKu bisa dialami. Kenalilah, alamilah, terimalah, tak usah berusaha memahami Aku, terima saja cintaKu. Biarkan cintaKu membalut hidupmu."

Lalu aku pun mengerti maksud Tuhan. Logika dan kemanusiawian kita hanya akan menghalangi kasihNya. Jangan lihat kasih Allah pakai kacamata logika. Untuk sesaat saja, sisihkan akal budi dan mulai aktifkan roh dan iman untuk melihat Tuhan. Sejenak saja, lihat kasihNya tanpa usaha kita. Terima saja cinta itu, biarkan cinta itu menyembuhkan kita.

Lalu sepulang dari acara di mana aku harus berbicara itu, seseorang mengirimkan pesan kepadaku, dan berkata bahwa Tuhan menjawabnya pada hari ini. Ia telah berusaha untuk memahami kasih Tuhan selama 3-4 bulan dan menemukan segala fakta yang pro dan kontra, tetapi malam ini ia menerima sebuah jawaban yang melegakan, dan mungkin malah, membebaskan. Kasih Tuhan itu memang tak untuk dimengerti, tapi untuk dikenal dan dialami.

Aku hanya bisa terkagum pada keluasan cintaNya. Aku sendiri tak akan pernah mengerti bagaimana Ia menyuruhku berbicara tentang kasih -yang kupikir bukan topik baru- tetapi ternyata seseorang dibebaskan, satu jiwa dilegakan, bagi kemuliaan Kristus.

Aku rasa, Tuhan tahu kebutuhan umatNya. Jika seseorang perlu mendengarnya lagi, Ia akan membuat siapapun berbicara.




Harapanku

Tuhan, aku hanya punya satu harapan.
Agar Kau tetap yang terutama dalam hidupku.
Yang pertama dari segala sesuatu.

Pencipta di atas semua yang dicipta;
Nomor satu.

Bukan karir atau pekerjaan.
Bukan harta, uang, atau kekayaan.
Bukan gereja atau pelayanan.
Bukan apa yang tampak baik untuk dilakukan.
Bukan keluarga atau cinta
Bukan orang-orang;
Apalagi barang-barang.
Bukan hal-hal yang penting dalam kehidupan.
Bukan kepuasan badani atau kesehatan
Bukan kebaikan atau kebanggaan
Bukan tindakan-tindakan
Atau keinginan-keinginan.
Bukan posisi atau prestasi
Bukan kekhawatiran,
Ketakutan-ketakutan yang tak perlu.
Pikiran, logika, atau imajinasi
Bukan otak kiri atau otak kanan.
Bahkan, bukan panggilanMu.
Bukan janjiMu.
Bukan berkat dan anugerahMu

Tapi hanya Engkau.
Hanya Engkau.
Selamanya sampai selamanya.
Hanya Engkau.

I Shall Not Want

Aku sedang menempuh perjalanan pulang sambil mendengarkan khotbah pastor John Piper, seorang pendeta dari AS dan penulis buku Risk is Right, waktu Tuhan membukakan sesuatu kepadaku.

Sebenarnya beberapa jam sebelumnya, setan sedang menggangguku lewat hal yang paling mudah ditemukan dalam kehidupan. Fakta. Fakta adalah pembunuh iman terbaik yang pernah ada di dunia ini. Tidak butuh pistol kaliber. Tidak butuh racun tikus. Ketahui saja sebanyak-banyaknya fakta di sekitar Anda. Niscaya iman akan menemui ajalnya dengan segera.

Aku melihat banyak fakta di Facebook hari ini. Ah, itu sebabnya aku tidak suka bergulir terlalu sering di laman Facebook. Tapi memang tak biasanya aku punya cukup waktu untuk melihat news feed orang-orang. Dan anehnya, aku hampir tak pernah membuka bagian news feed. Namun hari ini, bagian itu terbuka begitu saja (dan terasa sangat memenuhi layar!), seolah memohonku untuk menengoknya. Tak sengaja aku pun melihat begitu banyak perkembangan dan terobosan dalam kehidupan orang lain, bahkan mereka yang tidak hidup di dalam Tuhan. Lalu setan memainkan fakta-fakta itu dalam sebuah perbandingan besar dengan kehidupanku yang berada dalam masa penantian. Aku mulai merasa seperti sedang berjalan di atas treadmill, sementara semua orang lain berlari menuju tujuan mereka dan bahagia. Aku diam di tempat, mereka berlari pada tujuan. Aku menanti, mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan. Aku... mereka... aku... mereka...

Imanku pun mulai bertarung dengan fakta. Skor awal, fakta menang. Imanku babak belur saat kembali ke ujung ring. Terengah-engah oleh fakta yang bertubi-tubi. Tapi aku punya seorang Pelatih yang hebat. Ia tahu kapan aku menbutuhkan sebuah tepukan di punggung dan siraman air yang menyegarkan jiwaku. Ia tahu pasti, aku harus kembali kepada Firman.

Mengapa Firman? Sebab Firman adalah kebenaran yang absolut, yang kekal, yang tidak berubah, yang sejak keluar dari mulut Allah, tidak pernah kembali dengan sia-sia (Yesaya 55:11). Jadi apa yang dikatakan Firman itu tetap untuk selamanya. Firman adalah vaksin yang paling manjur untuk fakta. Anda kehilangan kepercayaan diri? Kehilangan harapan? Fakta membuat Anda ragu akan masa depan? Kembali kepada Firman. Kepastian yang terkandung dalam janji Allah akan membangkitkan kembali iman Anda yang terpuruk.

Dan karena Firman adalah Yesus sendiri, Allah yang hidup. Ke manakah kita menggantungkan segala kekhawatiran kita akan masa depan, jika tidak kepada Tuhan yang telah mati untuk kita -dan kini hidup dalam kekekalan sorgawi- yang telah menebus 'masa depan' itu bagi kita, dengan darah yang bukan mahal, aku tidak suka ketika darah Yesus dibilang mahal. Kalau mahal berarti masih ada orang yang bisa membelinya. Tapi darah ini tidak ternilai! Tidak terbeli oleh satu manusia pun di bumi. Namun dicucurkanNya dengan rela di kayu salib sampai mati, agar kita hidup, dan hidup berkelimpahan (Yohanes 10:10). Darah ini sudah mengembalikan semuanya. Termasuk kehidupan dan masa depan kita.

Firman Allah akan mengingatkan kita, betapa Allah telah melakukannya jauh lebih dari yang dapat kita bayangkan. Dia telah melebihi ekspektasi kita tentang penyelamatan. Sekarang pertanyaannya sederhana, kalau Ia merelakan anakNya yang tunggal untuk mati dengan cara yang dinobatkan sebagai cara mati paling buruk dalam sejarah manusia, agar kita dapat hidup, apa mungkin itu hanya untuk hidup yang biasa-biasa, atau malah, tanpa masa depan? Tidak mungkin! Kalau Anda seorang ayah atau ibu, Anda pasti memahaminya. Anda tidak akan merelakan anak Anda pergi melakukan suatu pengorbanan yang besar, jika tak ada tujuan yang agung pula di baliknya. Itu akan benar-benar menjadi pengorbanan yang sia-sia.

Jadi malam itu, menyadari betapa dahsyatnya Firman, aku kembali merenungkannya, lewat khotbah audio dari Pastor John Piper. Ia sedang membahas tentang Mazmur 23. Ah, Mazmur yang sederhana pikirku. Aku sudah tahu semuanya tentang Mazmur ini. Tapi tiba-tiba Tuhan mengingatkan aku satu bagian ayat yang dalam bahasa Indonesia berbunyi "Aku tidak akan kekurangan". Nah kita pasti sudah sangat familiar dengan frasa tersebut. Justru frasa itulah yang membuat ayat ini menjadi sangat terkenal. Karena kita, dan semua pendahulu kita berpikir bahwa ayat ini berbicara tentang pemenuhan kebutuhan material. Tidak salah memang. Karena toh ayatnya berbunyi demikian. "Aku tidak akan kekurangan". Tapi membaca ayat-ayat ini dan berhenti pada kesimpulan bahwa Allah pasti akan memenuhi kebutuhan kita, terlihat sangat terlalu sederhana bukan? Sebab ternyata Daud berbicara lebih dari sekadar kebutuhan material. Anda perlu tahu, Daud adalah seorang raja pada saat itu, dia hidup sangat berlimpah dengan materi. Ia makan saat ia ingin makan, Ia dapat membeli barang-barang hanya karena ia merasa bosan. Jadi kita dapat yakin. Bahwa ia tidak sedang membicarakan tentang Allah yang akan memenuhi kebutuhannya akan makanan atau pakaian. Ini sama sekali tentang sesuatu yang lain.

Untuk mengerti frasa ini, kita harus melihat terjemahan bahasa Inggris dari frasa "Aku tidak akan kekurangan". Dalam bahasa Inggris, seluruh ayat ini berbunyi, "The Lord is my Shepherd, I shall not want." (Mazmur 23:1)

"I shall not want."

Jadi seharusnya kita menerjemahkan ayat itu ke dalam bahasa Indonesia, bukan "Aku tidak akan kekurangan", tapi "Aku tidak akan menginginkan".

Aku tidak akan menginginkan. Wow. Sebuah pewahyuan yang membebaskan aku dengan segera dari cengkeraman hukum-hukum perbandingan.

Oke Anda bertanya, aku tidak menginginkan apa?

Kembali ke frasa sebelumnya, "The Lord is my Shepherd..."

Jadi aku coba menerjemahkan ayat ini dengan bahasa yang mudah kita pahami, "Karena Tuhan adalah Gembalaku, aku tidak akan menginginkan."

Mari sejenak kita masuk ke dalam pikiran seekor domba. Domba berpikir sederhana: aku tidak akan menginginkan apapun yang tidak diinginkan gembalaku. Kalau gembalaku pergi ke kiri, aku tak ingin pergi ke kanan. Aku lebih ingin pergi ke kiri, karena gembalaku ada di sana. Kalau gembalaku diam, aku juga ingin diam. Kalau gembalaku berjalan, aku juga akan berjalan.

Sama dengan jika kita benar-benar hidup dalam hubungan yang intim dengan Kristus Sang Gembala kita. Kita tak akan menginginkan? Menginginkan apa? Kita tak akan menginginkan apa yang tak Ia inginkan. Kita tak akan mau pergi ke tempat yang Ia tak mau kita di sana. Kita tak akan menginginkan pernikahan, kalau pernikahan itu tanpa Kristus. Kita tak akan menginginkan kesuksesan, jika kesuksesan itu menjauhkan kita dari Kristus. Kita tak akan menginginkan uang, karena uang tak mungkin berada di satu ruangan yang sama dengan Yesus. Jangan salah paham dengan saya. Tidak masalah jika Anda membutuhkan uang. Kita semua membutuhkan uang. Tapi jika kita menginginkan uang, dan lebih buruk lagi, menginginkannya lebih dari memiliki hubungan yang indah dengan Kristus, kita punya masalah besar!

Jadi, I shall not want, aku tidak akan menginginkan. Karena aku sudah memiliki Kristus, aku tidak akan menginginkan segala yang lain, yang bukan kehendak Kristus. Anda boleh membuka Facebook dan melihat begitu banyak fakta, tentang kesuksesan orang lain, kebahagiaan orang lain, kebesaran orang lain, tapi jika Kristus tidak menginginkannya untuk Anda, Anda tidak akan menginginkan. Sesederhana itu. Bangunlah hubungan yang pribadi dengan Allah. Maka Anda hanya akan menginginkan apa yang Ia inginkan. Daging boleh menginginkan banyak hal, karena daging lemah. Tapi jika roh Anda yang terhubung langsung dengan Bapa itu kuat, Anda akan dengan mudah menganggap segala keinginan daging itu sia-sia.

Selamat membangun hubungan yang lebih intim lagi dengan Sang Gembala, dan mulailah menginginkan apa yang Ia inginkan untuk Anda.

Because God Has Made Everything New.

So here's the news. I have finally changed my blog's name just now. I hope you find it nice. It's quite a big change actually. Because if you understand the blogging business, it's not usual to change a blog's name. But anyway, I feel that my life has changed in the past 2 years, so a lot of me have changed too. But it is now moving toward the right direction. My visions, my concerns of the world and the people, it all got clearer and better. That's why I need to change the name. To acknowledge the big change God has made in my life.

Why "The Grace Observed"? Well, I have to admit, I am quite inspired by a book written by C.S. Lewis, "A Grief Observed". I was reading it because I'm writing a book about overcoming grief. But thankful to God, this year, my life is no longer about grief. I have come to my senses that Mom is with God now. She is happy and having a huge party with Grandma up there. Moreover, this exact same year, God has introduced me to His "grace". The word that is so common, but so mysterious as well, to the human mind. And I have spent some time understanding and observing the grace, that I became a 'tiny' bit obsessed by it. Well, then a word came to me one night "grace observed". If I think about it, well, yes, I am observing the grace for a few months now, and still doing it. And maybe will keep doing it until my time is through. The point is, you will never really understand the grace of God. Because you are human beings, with human minds. But you can observe, feel, and be thankful of the grace. That is, fortunately, all you need to do. Like pastor Joseph Prince once said, just receive it. I like that word. Receive. (No, no, I'm not gonna change my blog's name again). So The Grace Observed represents my journey in 2012. It represents what I'm doing. What my life is about. And I want to share to you my findings about God's grace, also my days living inside the grace, so you can be blessed by the fact that, by grace, you are already free.

Ps: I hope you like the new simple design too... Thanks to the Manifest template, I can now have a clean and strict forward blog page.

© 2013. Sarah A. Christie. Powered by Blogger.