He Made Me Cough

Lagi-lagi, aku harus menceritakan tentang Allah... Dan perjanjian-perjanjian rahasia yang kulakukan denganNya.

Tapi ini bukan sebuah cerita yang serius, ini kisah yang sangat menghibur, dan malah sedikit membuatku tertawa. Well, we can say that, God was teasing me. But, I was the one who asked for it. He was just showing His agreement.

The story took place when I was sitting in my cell group meeting and thinking, while others were sharing their thoughts on this particular topic delivered by one of our seniors... Aku sedang berpikir apa yang harus aku sampaikan, dan apakah aku harus menyampaikannya. Apa yang harus kulakukan, dan apakah aku perlu melakukannya. Jujur, aku sangat berhati-hati dalam melakukan atau mengatakan sesuatu. Aku hanya ingin mengatakan apa yang perlu kukatakan tanpa menceritakannya secara berlebihan (aku punya tendensi itu), karena aku ingin saudara-saudaraku di grup ini dapat memperoleh pesan yang tepat, yang memang mereka butuhkan, bukan cerita panjang lebar yang malah akan membuat mereka bingung (Aku mungkin juga punya tendensi itu).

Aku punya sebuah pemikiran yang berlari-lari di dalam otakku. Sebuah pemikiran, yang mungkin saja jika kubagikan, dapat memberkati mereka yang mendengarnya. Aku ingin sekali menyampaikannya, tapi aku tidak yakin, karena hari itu bukan giliranku untuk memimpin sharing. Dan aku tak mau mengambil ruang dan waktu seniorku, out of my respect to her. Juga ada ketakutan tersendiri di dalam hatiku, jika aku membagikan pemikiran manusiaku, yang bukan berasal dari Allah, aku akan membanggakan diri karena itu. Tapi aku bimbang dan terus menerus memikirkannya, apakah benar jika aku tidak mengatakannya, apakah sesuai dengan kehendak Allah? Lalu aku pun bertanya kepada Tuhan di dalam hati, 'Tuhan, bagaimana ini, apakah pemikiran di dalam kepalaku ini berasal dari Engkau? Haruskah aku membicarakannya? Tapi bagaimana aku tahu jawabanMu...? Ah begini saja, jika Engkau menghendaki aku untuk melakukan atau mengatakan apa yang terpikirkan di dalam kepalaku, Kau akan membuatku terbatuk-batuk (seolah-olah tersedak)'. What? Ya aku tak tahu mengapa dalam waktu yang sekejap aku membuat perjanjian seperti itu dengan Tuhan. Hanya itu yang bisa terpikirkan dalam hitungan detik saat berbagai pertimbangan saling berlomba di dalam otakku. Mungkin karena aku terlalu sering menonton film khas Amerika, di mana kala seseorang berusaha untuk memberitahu sesuatu kepadamu, ia akan menyenggolmu dan membuatmu tersedak; atau menendang kakimu, salah satu dari itu.

Aku hanya benar-benar ingin melakukan kehendakNya dan bukan keinginanku sendiri. Aku takut jika aku melakukan keinginanku sendiri, dan berhasil, then I will take credits for that. And I don't want to do that.

Akhirnya, sepanjang acara cell group itu, aku tidak tersedak sama sekali... Well, eventually, aku pun lupa akan perjanjian itu. Sehingga aku pun tidak jadi menyampaikan apa yang tadinya dengan penuh ambisi ingin kusampaikan. Thank God for holding me back. Kalau aku ingat-ingat, bahkan ketika kami makan malam pun, aku tak tersedak sama sekali. Itu sesuatu yang jarang terjadi. Satu dua kali, cabe bisa membuatku tersedak. Tulang ayam bisa membuatku tersedak. Tapi anehnya, aku tidak tersedak, bahkan hingga acara berakhir dan kami bergegas pulang.

Sewaktu aku pulang, aku mampir di tempat salah satu teman cell group dan duduk sejenak sembari mengumpulkan tenaga yang tersisa untuk mengendarai motor dan berjalan pulang karena hari sudah larut malam. Lalu sebuah pemikiran muncul di kepalaku, yaitu aku harus mendoakan dia. Pada saat ini Aku sudah lupa akan perjanjianku dengan Tuhan beberapa jam sebelumnya. Tapi tiba-tiba, waktu aku sedang meminum segelas air mineral, AKU TERSEDAK! Saat itu aku langsung teringat pada persetujuan kecilku dengan Allah, bahwa jika Ia ingin aku menyampaikan atau melakukan sesuatu yang muncul dalam pikiranku, ia akan membuatku tersedak. Dan aku pun tersenyum lebar. Temanku sudah pasti tak tahu apa alasan di balik senyum simpulku yang benar-benar bermakna. Hanya aku dan Allah yang tahu. Aku pun mengajaknya berdoa, dan aku pulang dengan tersenyum pada Bapaku yang dahsyat, yang menjawab permintaan konyolku dengan sabar. Dan yang meyakinkan aku, dengan cara yang aku minta, bahwa aku sedang berjalan dalam kehendakNya.

ps: aku harus menulis ini, so I won't forget this moment, ever! Thank God for a God like You!

Not A Girl, Not Yet A Woman.


Frase itu terdengar nyaring di telinga saat usia saya mulai beranjak ke angka dua puluhan. Bahkan Britney Spears, idola remaja itu pun menyanyikannya, seolah-olah ini jeritan hati semua gadis di seluruh dunia. Dan saya yakin, kamu juga pernah mendengarnya. Frase ini diucapkan untuk menggambarkan posisi kita pada tangga kehidupan. Ya, syukurlah, kita sudah berhasil meninggalkan masa remaja yang cukup menguras energi, tetapi sayangnya, kita juga tak bisa dibilang sudah benar-benar dewasa. Dan, berada di 'tengah-tengah' seperti ini selalu menjadi hal yang menyebalkan, bukan. Meskipun, terkadang juga sebuah 'keuntungan' tersendiri.

Saat sebuah masalah terjadi misalnya, kita tak harus menghadapi semuanya sendirian. Setidaknya papa dan mama akan selalu bersama-sama dengan kita, every step of the way. Dan meskipun masalah itu terjadi sebagian karena kesalahan kita, mereka akan berusaha memaklumi. Ya, kita mendapatkan banyak sekali kata 'maklum' pada masa-masa ini. 'Maklum' melindungi kita dari kewajiban untuk bertanggung jawab secara penuh terhadap masalah-masalah yang kita hadapi. Intinya, pada usia-usiamu, kesalahan-kesalahan akan dimengerti, kegagalan dianggap manusiawi .  Menurut saya, itu hal yang cukup menenangkan hati. Walau bukan berarti kita lalu berlomba-lomba untuk melakukan kesalahan. Karena akan tiba masanya, di mana kita harus bertindak untuk diri kita sendiri. We have to speak for our own. Oleh sebab itu, kalau hari ini kita tak harus menanggung sendirian semua masalah yang seharusnya kita hadapi, don't get too excited, itu hanya berarti kita harus lebih siap menghadapinya nanti.

Namun, sisi yang paling tidak menyenangkan dari berada di 'tengah-tengah', ketika kita mulai ingin disebut wanita –daripada gadis– adalah terlalu banyaknya pertanyaan yang muncul di dalam otak kita. Terutama pertanyaan soal jalan yang akan kita tempuh, arah yang kita ambil, dan akan menjadi wanita seperti apakah kita nanti. Semua pertanyaan soal masa depan itu biasanya muncul bersamaan, dan semuanya seolah-olah menuntut jawaban dengan segera. Lagipula ini bukan pertanyaan-pertanyaan kanak-kanak soal cita-cita, yang jawabannya semudah: menjadi dokter, atau dosen, atau presiden. Ini adalah pertanyaan tentang hidup. Dan hidup seperti apa yang ingin kita miliki. Itu sebabnya, lebih sering daripada jarang, kamu jadi bingung dan frustasi dengan pertanyaan-pertanyaan itu. Para psikolog sering menyebut fase peralihan ini sebagai 'masa pencarian identitas diri'. Saya lebih senang menyebutnya 'sebuah petualangan hidup yang mendebarkan!'

Tetapi tentu saja dalam setiap petualangan, kamu butuh peta dan kompas agar kamu tak tersesat atau salah memilih jalan. Supaya perjalananmu tetap aman sampai ke tujuan, tidak menjadi sebuah usaha penyelamatan diri dari tebing yang curam. Nah, anggap saja, beberapa langkah berikut ini, adalah peta dan kompasmu menuju masa depan. Beberapa langkah sederhana yang dapat membantumu melalui fase penuh pertanyaan ini dengan selamat.

1. Tidak Usah Berusaha Menjawab Semuanya Sekarang.

Tidak semua pertanyaan harus dijawab saat ini juga. Malah kebanyakan, pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam kehidupan, baru terjawab beberapa tahun kemudian, atau malah berpuluh-puluh tahun setelah kamu menanyakannya kepada Yang Kuasa. Yang terpenting saat ini, justru bukan menjawab semua pertanyaan, tetapi mengumpulkannya. Nanti, dalam perjalanan hidupmu, kamu pasti akan menemukan jawaban demi jawaban. Ingat waktu kita kecil, ada permainan mencocokkan gambar yang sangat mengasyikkan. Kita menarik garis dari kolom A ke kolom B, untuk mencocokkan gambar di kolom A dengan gambar di kolom B. Sendok dan garpu, amplop dan perangko, piring dan gelas. Seperti itulah kehidupan. Seiring dengan waktu, kamu akan menarik garis-garis, dan kamu akan menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaanmu, yang tidak selalu datang dalam urutan yang sama. Kadang pertanyaan yang baru saja muncul dalam benakmu terjawab lebih cepat daripada pertanyaan yang sudah lusuh dalam tumpukan pertanyaan lain di dalam hatimu. Tapi pada akhirnya, kita pasti akan menemukan jawaban-jawaban yang 'cocok'.

Nah, sekarang, yang lebih penting adalah bagaimana kamu benar-benar menjalani kehidupanmu saat ini dengan maksimal. Lakukanlah yang terbaik dalam apapun yang sudah dipercayakan kepadamu, apakah itu kuliah, keluarga, karir, atau cinta. Itulah jawaban yang boleh kamu ketahui untuk saat ini. Kamu punya keluarga yang menyayangimu, karir yang kamu sukai, dan cinta atau persahabatan orang-orang di sekitarmu. Pergunakanlah itu menjadi kekuatan untuk kamu melangkah ke depan. Dan menemukan jawaban-jawaban lainnya.

2. Cari Lebih Dalam.

Meski kamu tak harus menjawab semua pertanyaan sekarang, tidak berarti lalu kamu puas dengan kehidupan, dan memilih diam di depan televisi sambil makan pop corn. Sama sekali tidak. Terobosan-terobosan dalam hidup tak akan datang kepada penonton, non. Kesempatan-kesempatan emas hanya akan mendekat ke mereka yang berusaha meraihnya.

So, justru dalam masa-masa ini, carilah lebih dalam. Berjalanlah lebih jauh, dalam petualanganmu mencari identitas diri. Jangan puas dengan apa yang kamu lihat di depan. Dan jangan puas dengan apa yang kamu lihat di kaca, atau malah menjadi terintimidasi karenanya. Di dalam kamu, ada potensi yang begitu besar, yang masih belum tergali, yang jauh lebih bernilai dari apa yang kasat mata. Dan saat kamu menemukannya, mengembangkannya, memaksimalkannya, kamu benar-benar akan meraih kehidupan yang kamu impikan, atau malah yang belum terpikirkan olehmu. So, dig deeper, my friend!

3. Menjadi Ibu Untuk Sesuatu Yang Lebih Besar.

Ini clue-nya, kalau kamu bingung. Yang pasti, kamu tidak semata-mata ditakdirkan menjadi ibu dari anak-anakmu. Meskipun, itu adalah tugas utama seorang wanita, dan juga yang paling mulia (jadi kamu harus bangga menjadi seorang ibu ya). Siapa tak ingin berjumpa dengan seorang pangeran berkuda putih dan menikahi dia, lalu melahirkan putra-putri dan hidup bahagia selamanya. Bukankah itu adalah impian setiap wanita? Atau sekalipun kamu tak pernah mengimpikannya, sekali waktu, kamu pasti pernah memikirkannya, kan.

Namun bukan itu saja takdirmu. Kamu direncanakan untuk menjadi lebih daripada itu. Dan percaya tidak percaya, kebahagiaan yang sesungguhnya, adalah ketika kamu dapat membagi kebahagiaan itu pada orang lain. Dan jika kamu bertanya-tanya bagaimana caranya membagi kebahagiaan itu, well, jawabannya sederhana. Jadilah 'ibu' bagi banyak hal yang dibutuhkan oleh bangsa ini; Ibu bagi pelestarian budaya. Ibu bagi kehidupan berpolitik yang bersih dan kondusif. Ibu bagi perubahan. Ibu bagi pemerintahan yang adil dan benar. Ibu bagi peningkatan kualitas pendidikan masyarakat. Ibu bagi kesehatan ekonomi massa. Ibu bagi kesejahteraan bangsa. Ibu, bagi generasi-generasi yang akan datang.

Kamu siap? Sebuah kehidupan yang besar menunggumu! Jadi saatnya kamu menoleh ke kiri dan ke kanan, ke segala arah yang tak pernah kamu lihat sebelumnya, sambil mencari, adakah di sekitarmu sebuah kehidupan yang membutuhkan seorang 'ibu'? Dan mulailah lakukan sesuatu.

4. Berdampak, Bukan Populer.

Memang sulit untuk membedakan, apakah kamu ingin menjadi orang yang berdampak, atau orang yang populer. Ada garis tipis yang hampir tak kelihatan, di antara berdampak dan populer. Tapi mari kita menggunakan teori 'belum tentu'. Populer, belum tentu berdampak. Tetapi menjadi orang yang berdampak, tentu akan membawa popularitas yang baik dengan sendirinya.

Artinya, jangan mencari kehidupan yang populer, karena pada akhirnya kamu tak akan menemukan apa-apa di ujung perjalanan, selain popularitas yang menurun ketika waktumu senja. Tetapi carilah dan capailah kehidupan yang berdampak. Yang punya pengaruh bagi mereka yang ada di sekitarmu, dan yang membangun mereka menjadi orang yang lebih baik. Maka niscaya, kamu akan bertumbuh menjadi wanita-wanita dewasa yang dapat menjadi panutan untuk jutaan generasi yang akan datang.

Jadi tidak ada yang salah dengan demikian banyaknya pertanyaan yang melingkupimu saat ini. Kemasi pertanyaanmu dan masukkan dalam kapsul waktu. Biarkan hidup maksimalmu yang menjawabnya. Selamat berpetualang, wanita-wanita muda yang hebat!


Rindu!

Oh jiwaku rindu, rindu, untuk berlari kepadaMu!
Aku ingin keluar, keluar dari kefanaan,
Ya meloncat keluar dan menangkap RohMu!
Bersatu, berpadu, tinggal dalam kasihMu.
Selamanya, selamanya.
Selamanya aku hidup, aku akan terus merindu.
Sampai tiba waktuku.
Ingatlah Bapa, bersiap-siaplah Bapa.
Bukalah tanganMu lebar-lebar dan kuatkanlah
Aku akan menerkamMu dengan segenap kerinduanku!

Seringkali, Kita Salah Interpretasi.

Tuhan tidak bilang hujan tak akan turun, tapi kalau hujan turun, itu tak akan selebat yang kamu bayangkan.

Tuhan tidak bilang kamu tak akan jatuh, tapi kalau kamu jatuh, Ia yang akan menopangmu dan membalut luka-lukamu.

Tuhan tidak bilang kamu akan selalu gembira, tapi kalaupun kamu sedih, Ia ada di dekatmu.

Tuhan tidak bilang kamu akan selalu bertemu dengan orang-orang yang baik, tapi kalau kamu harus berpapasan dengan orang-orang yang menyakitimu, itu akan membuatmu dewasa.

Tuhan tidak bilang kamu tak akan punya kelemahan, tapi Ia berkata, "Di dalam kelemahanmu, Aku kuat".

Lalu ada yang namanya anugerah, yang adalah kasih Allah sendiri, yang mengatasi semua 'hajar' yang seharusnya kamu terima, sehingga, sesekali,

Hujan benar-benar diam di awan-awan walau petir berlomba-lomba memancarkan sinarnya.

Kamu tak jatuh meski kiri kananmu berserakan.

Kamu berjumpa denganNya dalam kesedihanmu.

Kamu berpapasan dengan orang yang sangat baik.

Kamu dapat berkarya meski kamu lemah.

Jadi apa artinya bagiku? Artinya, aku hidup dalam anugerah dan didikan.

Kembali Ke Pusat

Setiap hari, setiap saat, pandangan kita perlu dikembalikan kepada Yesus.

From my study of the first Corinthians.

Aku adalah aku, semua yang ada padaku adalah milikku. Tetapi aku adalah milik Kristus, dan Kristus adalah milik Allah. Jadi apa alasanku bermegah?

Keajaiban Besar Dalam Kemasan Kecil.

Aku harus menceritakan tentang Tuhan. Aku harus menceritakan tentang keajaiban demi keajaiban yang terjadi padaku hari-hari ini. Small miracles, tetapi itu adalah bukti bahwa kita memiliki Tuhan yang besar. Sangat besar! Sangat berkuasa. Dahsyat dan ajaib. Dan yang terpenting dari semua itu, Ia sangat mengasihiku, lebih dari yang aku pikir aku tahu. And if you do pay attention to every detail in your life, I bet you will see what I see these days.

On Thursday.

Aku harus membayar uang jasa transportasi antar jemput yang aku gunakan, tetapi seperti kukatakan kemarin, pengeluaranku bulan ini sudah overbudget, in many ways I can’t describe. Tetapi entah mengapa, aku percaya tabunganku tak akan terpotong. Dan aku berserah, jika memang jumlah tabunganku akan terpotong, maka Tuhan akan menggenapkannya kembali.

Aku tak punya back up plan. Aku hanya punya keyakinan, bahwa Tuhan tahu tentang keadaanku, sepenuhnya. Tentang segala pengeluaranku itu, dan bahwa semuanya kulakukan karena keharusan, bukan karena sebuah tujuan ingin berfoya-foya. Semua langkah yang aku ambil, semua keberanian yang aku kumpulkan untuk keluar dari kantorku sebelumnya meskipun pendapatanku di sana lebih besar. Dan aku tahu aku tak akan kekurangan, apalagi meminta-minta. Aku tak akan berhutang. Because that’s His promise.

Dan hari itu, waktu aku sedang makan siang dengan Papa, salah seorang clientku menghubungi. Ia mengatakan bahwa ia lupa mentransfer pembayaran bulanan jasa menulis yang aku lakukan untuk perusahaannya. Dan ia baru saja mentransfer pembayaran terse but ke rekeningku. Yang baru aku sadari beberapa menit kemudian adalah, jumlahnya sama persis dengan amount yang harus aku bayar kepada jasa transportasi yang aku pakai! Exactly the same! Sehingga tabunganku tidak jadi terpotong.

Hal ini sudah pernah terjadi beberapa bulan yang lalu, waktu Papa harus dioperasi karena ada semacam kista di lehernya. Tidak berbahaya sih, tetapi kami memutuskan untuk tetap menyingkirkannya, agar tidak menjadi berbahaya di kemudian hari. Waktu itu, aku sudah yakin, tabunganku sudah pasti akan berkurang dari jumlah yang aku tetapkan. Sebab biaya operasi sangat besar. Tetapi entah mengapa, dengan segala bantuan yang datang, dari keluarga maupun kerabat, jumlah tersebut memang sempat berkurang, namun kembali genap dalam waktu singkat. Mungkin bahkan tidak sampai sehari.

Aku masih ingat perkataan seorang pendeta, Joseph Pratana, di gereja kami beberapa minggu lalu. Ia sedang menjelaskan tentang kisah populer di Kitab Keluaran, saat laut teberau terbelah. Rupanya para ilmuwan berusaha menyangkal keajaiban tersebut dengan mengatakan bahwa yang terjadi adalah fenomena alam, bukan mujizat Allah. Joseph mengatakan, “Benar, itu fenomena alam karena Tuhan membelah laut dengan angin puyuh (jadi secara sains, itu mungkin terjadi), tetapi yang menjadikan hal ini mujizat adalah waktunya yang sangat tepat!” WaktuNya sangat tepat! Tepat bangsa Israel sudah di ujung laut. Tepat ketika mereka sudah tak bisa lari ke mana-mana. Tepat ketika pasukan Mesir hampir mendapatkan mereka. Tepat pada saat itu, Tuhan membelah laut Teberau. Tidak terlalu dini, dan tidak terlambat. Tepat. Exact, precision, perfect timing.

Tepat ketika aku membutuhkan uang dalam jumlah tertentu. Tepat ketika tabunganku akan terpotong. Tepat pada saat itu, Ia mengirim dari Surga, jumlah yang sama, lewat seorang klien yang aku kukira sudah membayarku di awal bulan (aku jarang mengecek rekeningku). Ia mempesonaku sekali lagi.

On Friday.

Hari Jumat adalah hari aku harus hadir di kantor tempatku freelancing. Dan aku berharap seisi rumah sudah tahu tentang itu (ya memang aku salah dalam hal ini). Aku lupa memberitahu pada pegawai kami di rumah tentang jadwal kerjaku. Sehingga ia tak menyiapkan bekal makan siang untuk kubawa ke kantor. Aku agak upset, tetapi karena menyadari bahwa 80 persen adalah salahku sendiri, aku memilih diam dan berangkat ke kantor tanpa bekal. Sepanjang perjalanan aku berpikir bagaimana aku akan makan siang, sebab seperti pernah kuceritakan di posting-ku sebelumnya, standar makanan di daerah kantorku cukup mahal. Dan masalahnya, aku sudah overbudget itu tadi. Seandainya pengeluaranku biasa-biasa saja. Aku tak akan sepelit itu terhadap diriku sendiri. In this state, segala pengeluaran yang tidak perlu atau yang seharusnya bisa dibuat lebih hemat, akan sangat menyebalkan buatku.

Sampai di kantor, aku melihat penjual nasi keliling, dengan harga yang sangat murah. Aku beruntung pikirku, ini pertolongan Tuhan. Meski dengan harga yang sangat murah itu aku tak yakin nasi itu akan ada rasanya, atau ada lauknya, tapi yah, sudahlah, yang penting kan aku makan, dan kantongku tak bakal terkuras.

Namun sampai di dalam kantor, ternyata teman sekerjaku sedang pergi ke luar kota. Aku tak menyadari apa hubungannya denganku, sampai catering makan siangnya datang ke ruangan kami. Detik itu juga aku baru menyadari, bahwa Tuhan sebenarnya sudah menyediakan makan siangku! You know, makan siangnya akhirnya memang diberikan padaku, karena teman-teman yang lain sudah membawa bekalnya sendiri. Jadi sebenarnya, tanpa aku berusaha menyelamatkan diri dengan membeli nasi bungkus, Ia sudah memeliharaku dengan jauh lebih baik, melalui catering makan siang temanku.

Ini adalah bukti bahwa, sebagus apapun rencanamu, tak akan lebih bagus dari rencanaNya. His plans are always better. Itu yang kamu perlu tahu.

On Sunday.

Ini sih boleh dibilang the most bizarre moment this week. Aku sedang antri di kasir sebuah supermarket, waktu aku menyadari bahwa aku melupakan sesuatu yang selalu aku lupakan ketika berbelanja, tissue basah! Entah mengapa aku selalu lupa! Dan I hate this supermarket on Sundays, because it’s always so crowded, sehingga tak mungkin kalau aku meninggalkan antrianku hanya untuk mengambil satu bungkus tissue basah. No, no, no, aku bisa mengulang lagi antrian dari awal, padahal aku sudah di depan kasir.

Lalu I think something told me to look upfront, lihat ke arah depan, ke rak-rak di depan kasir yang selalu menawarkan kita more things to buy. And there it is, satu bungkus tissue basah, dengan brand yang biasa kubeli, terpampang di sana. Hanya satu, jadi aku tahu bahwa itu memang tidak seharusnya berada di sana. Seseorang meninggalkannya di sana. Atau mungkin, an angel did. An angel helped me run my errands!

It’s just there, seperti sesuatu yang appear by itself, di tempat dan waktu yang tepat. I don’t know about you, tetapi buat aku, ini adalah great miracles in small packages. Tampaknya mujizat kecil, tetapi sebuah benda muncul di tempat dan waktu yang tepat, adalah mujizat besar buatku. Kemasannya saja sederhana. The miracle itsdlf is big!

On Monday (This Morning).

I’m gambling with time. Jam 7 nanti malam aku harus mengikuti School of Ministry di gerejaku. Dan ya, aku lupa cerita bahwa hari Minggu kemarin aku mendapat teguran Tuhan soal ini. Aku hampir saja memutuskan untuk tidak ikut dalam kegiatan ini karena aku berpikir mana mungkin aku mengikutinya, aku bisa sangat kelelahan karena berpacu dengan waktu. Kantorku berada jauh di tengah kota, gerejaku berada di pinggir barat kota Surabaya. Jadi itu berarti mengarungi lautan kemacetan jam pulang kantor yang begitu melelahkan. Pertama, aku tak yakin aku dapat mencapai daerah barat tepat jam 7 malam. Kedua, aku pasti sangat lelah. Tapi soal lelah itu aku singkirkan, karena Tuhan menegurku soal disiplin spiritualku yang menurun. Nah sekarang lebih ke masalah bagaimana menerjang kemacetan dan tiba di rumah jam 7 tepat, lalu dengan motorku, berangkat secepatnya ke gereja. Aku rasa, kalau aku bisa mencapai rumah jam 7 tepat, maka aku hanya akan terlambat 15 menit, sebab rumah dan gerejaku tak terlalu jauh.

Tetapi masalahnya, jasa transportasi antar jemput yang aku gunakan, biasanya harus menjemput dua orang sebelum aku, dan salah satunya berkantor di pusat kemacetan Surabaya. Itu yang membuatku semakin pesimis. But anyway, sebab Tuhan yang menyuruhku mengikuti kegiatan ini, sebagai fondasi yang kuat bagi pelayanan yang akan kulakukan (yang belum kuketahui secara jelas tapi yang aku yakin akan kulakukan), maka aku yakin benar He knows what He’s doing, and He knows what He’s telling me. So meski aku sudah memutar otak, aku akhirnya memutuskan untuk percaya, bahwa Tuhan punya jalan terbaik. The Miracles Way.

Tiba-tiba pagi ini, ibu yang berkantor di pusat kemacetan itu mengatakan bahwa ia tak akan ikut pulang ke daerah barat. And that means, menghemat cukup banyak waktu!

I can’t tell you now, because it hasn’t happened yet. But I’m pretty sure, Dia akan membuatku tidak terlambat terlalu banyak, atau bahkan, tidak terlambat sama sekali. Sebab ia mau aku mengikuti kelas ini. And I tell you what, kalau Ia yang menginginkannya, tak ada yang dapat menghalangi Dia. Sebab Ia adalah Allah yang absolut. And because He knows what He’s doing, aku mempercayai Dia dengan segenap hari ini. To God be the glory and honor.

Well, I hope you are blessed by my stories. And keep believing in the miracles. Keajaiban-keajaiban besar dalam kemasan-kemasan kecil. Keep witnessing and admitting God's work in your life, because He loves you that much.

© 2013. Sarah A. Christie. Powered by Blogger.